Friday, May 23, 2014

9:80

Di madinah, udara terasa riuh. Bukan hanya karena tahun ini begitu banyak utusan berdatagan dari berbagai macam negeri, melainkan ini keriuhan datang dari dalam kota sendiri.

'Abdullah in Ubayy, si pembelot yang mengajak pulang seagian otang ketika pasukan berangkat ke utara, terputus napas terakhirnya. Sakit berketerusan yang ujungnya kematian. Siapa pun tahu dia biangnya keonaran. hatinya terbelah dua. Setengah mengimani agamamu, separuh nya lagi tak pernah berhenti berusaha menghancurkan dirimu, wahai Rasulullah..

kebanyakan orang berpikir kematiannya adalah hafiah bagi madinah. Sambung dari serentet kemenangan yang terus berdatangan. Namun, tidak bagimu ya Rasulullah. Engkau melakukan sesuatu yang oleh orang-orang yakin engkau tidak akan melakukan itu.

Dalam sakitnya, Engkau mendatangi 'Abdullah in Ubayy di rumahnya. Engkau tunjukkan rasa simpatimu, engkau berikan senyum terbaikmu.

"Ya Rasulullah". Dalam napas yang tesendat-sendat, seolah maut sudah demikian dekat, 'Abdullah bin Ubbay berkata kepadamu. "Aku berharap engkau mau berdoa di samping kuburanku dan memohonkan ampunan atas dosa-dosaku".

Engkau mengiyakan permintaan 'Abdullah. Bahkan, begitu terdengar kabar kematianya, engkau melepas jubahmu, agar dijadikan sebagai kain kafan bagi 'Abdullah. hari ini,, engkau bersiap untuk menshalatkannya dan mengantar jasad mati itu ke pemakamannya.

"Ya Rasulullah," suara Umar. Dia sahabatmu yang suka bertanya. Jika ada sesuatu yang mengganjal di batinnya, dia jarang menahannya sebagai rahasia. "Mengapa engkau memberi kehormatan semacam ini terhadap orang munafik?"

Munafik. Orang-orang yang mulutnya berkata ini, sedangkan hatinya berkata itu. 'Abdullah bin Ubayy adalah orang semacam itu selama dia hidup. 'Umar merasa apa yang engkau lakukan kepadanya sungguh tidak pada tempatnya.

"Berdirilah di belakangku, wahai 'Umar," engkau lembut menjawab sedangkan bibirmu mengulas senyum, "Aku diberi pilihan dan aku telah memilih. Telah dikatakan kepadaku 'Maafkanlah mereka atau tidak sama sekali; meskipun engkau memohon ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka*) Dan aku tahu, Allah akan mengampuninya jika aku berdoa lebih dari tujuh puluh kali, maka aku akan menambah doaku."

'Umar terdiam. Dia lalu mengikuti apa maumu. Shalat didirikan, doa dilangitkan. hari itu, seluruh madinah melihat apa yang engkau lakukan. menyaksikan bagaimana caramu menghapus dendam. Berjalan beriringan dengan beberapa orang mengantar jasad 'Abdullah din Ubayy ke kuburan. Sesampai di pemakaman. setalah jasad 'Abdullah dikuburkan, engkau mengangkat dua tanganmu, berdoa kepada Tuhanmu.*) Q.S 9:80

Wallahu'alam
dikutip dari Muhammad, Para pengeja hujan,
semoga memberi insprasi.

No comments: