Friday, May 23, 2014

Read More..

Di madinah, udara terasa riuh. Bukan hanya karena tahun ini begitu banyak utusan berdatagan dari berbagai macam negeri, melainkan ini keriuhan datang dari dalam kota sendiri.

'Abdullah in Ubayy, si pembelot yang mengajak pulang seagian otang ketika pasukan berangkat ke utara, terputus napas terakhirnya. Sakit berketerusan yang ujungnya kematian. Siapa pun tahu dia biangnya keonaran. hatinya terbelah dua. Setengah mengimani agamamu, separuh nya lagi tak pernah berhenti berusaha menghancurkan dirimu, wahai Rasulullah..

kebanyakan orang berpikir kematiannya adalah hafiah bagi madinah. Sambung dari serentet kemenangan yang terus berdatangan. Namun, tidak bagimu ya Rasulullah. Engkau melakukan sesuatu yang oleh orang-orang yakin engkau tidak akan melakukan itu.

Dalam sakitnya, Engkau mendatangi 'Abdullah in Ubayy di rumahnya. Engkau tunjukkan rasa simpatimu, engkau berikan senyum terbaikmu.

"Ya Rasulullah". Dalam napas yang tesendat-sendat, seolah maut sudah demikian dekat, 'Abdullah bin Ubbay berkata kepadamu. "Aku berharap engkau mau berdoa di samping kuburanku dan memohonkan ampunan atas dosa-dosaku".

Engkau mengiyakan permintaan 'Abdullah. Bahkan, begitu terdengar kabar kematianya, engkau melepas jubahmu, agar dijadikan sebagai kain kafan bagi 'Abdullah. hari ini,, engkau bersiap untuk menshalatkannya dan mengantar jasad mati itu ke pemakamannya.

"Ya Rasulullah," suara Umar. Dia sahabatmu yang suka bertanya. Jika ada sesuatu yang mengganjal di batinnya, dia jarang menahannya sebagai rahasia. "Mengapa engkau memberi kehormatan semacam ini terhadap orang munafik?"

Munafik. Orang-orang yang mulutnya berkata ini, sedangkan hatinya berkata itu. 'Abdullah bin Ubayy adalah orang semacam itu selama dia hidup. 'Umar merasa apa yang engkau lakukan kepadanya sungguh tidak pada tempatnya.

"Berdirilah di belakangku, wahai 'Umar," engkau lembut menjawab sedangkan bibirmu mengulas senyum, "Aku diberi pilihan dan aku telah memilih. Telah dikatakan kepadaku 'Maafkanlah mereka atau tidak sama sekali; meskipun engkau memohon ampun bagi mereka tujuh puluh kali, Allah tidak akan mengampuni mereka*) Dan aku tahu, Allah akan mengampuninya jika aku berdoa lebih dari tujuh puluh kali, maka aku akan menambah doaku."

'Umar terdiam. Dia lalu mengikuti apa maumu. Shalat didirikan, doa dilangitkan. hari itu, seluruh madinah melihat apa yang engkau lakukan. menyaksikan bagaimana caramu menghapus dendam. Berjalan beriringan dengan beberapa orang mengantar jasad 'Abdullah din Ubayy ke kuburan. Sesampai di pemakaman. setalah jasad 'Abdullah dikuburkan, engkau mengangkat dua tanganmu, berdoa kepada Tuhanmu.*) Q.S 9:80

Wallahu'alam
dikutip dari Muhammad, Para pengeja hujan,
semoga memberi insprasi.

Read More..

Rasulullah usai dari pertempuran melawan salah satu kabilah yang menentang daulah Islamiyah yang tengah berdiri di Madinah. Pertempuran itu dimenangkan oleh kaum Muslimin dengan menghalau mereka kembali ke kampung halaman mereka. Salah seorang dari kabilah itu kembali ke rumahnya dan tidak menemui istrinya di sana. Ia mengira bahwa istrinya ditawan oleh kaum muslimin. Ia bersumpah untuk tidak kembali ke rumah hingga mendapatkan istrinya. Akhirnya ia mengintip pasukan muslimin. Rasulullah memerintahkan tentara agar berhenti ketika malam menjelang untuk menginap hingga pagi. Beliau meminta dari para sahabat untuk bertugas hirasah (berjaga malam/rpnda.red) amar bin Yasir dan Ubad bin Bisyr sanggup memikul tugas itu.

Ketika mereka keluar ke mulut gang, si anshar berkata kepada si muhajirin, yakni Ubad kepada Amar,

“Malam yang mana yang kau sukai, awal atau akhirnya?”

“biarkan untukku awalnya.”

Maka si muhajirin, Amar, mulai membaringkan tubuhnya lantas tidur. Sedang si anshar, Ubad, beranjak mengerjakan shalat. Kemudian datanglah orang itu. Ketika melihat sesosok manusia, ia yakin bahwa orang itu (Ubad) adalah penjaga kaum Muslimin, maka ia bidikkan anak panah ke arahnya, ia lepaskan dan mengenainya, namun sahabat itu tetap dalam keadaan berdiri. Kemudian dilepaskan anak panah yang lain dan mengenainya, kemudian di susul dengan yang ketiga juga mengenainya hingga sahabat itu meneruskan ruku’ dan sujud. Setelah itu ia membangunkan sahabatnya dari tidur.

Amar berkata, “Duduklah dengan tenang, aku telah bangun.” Pengintai itu lantas melompat ketika dilihatnya kedua sahabat itu hendak membalasnya, dan kaburlah ia.

Ketika dilihatnya tubuh sahabat anshar mengucurkan darah, Amar berkata, “Subhanallah, mengapa kamu tak membagunkan aku saat pertama ia memanahmu?”

“Saat itu aku sedang serius membaca satu surat, aku tidak ingin memutuskannya hingga tuntas. Maka panah demi panah mengenaiku, aku pun ruku’ lantas membangunkanmu. Demi Allah, kalau bukan karena khawatir aku mengabaikan amanah (tugas) yang Rasulullah perintahkan untuk menjaganya, aku biarkan ia membunuhku hingga aku selesaikan bacaanku atau merealisasikan surat itu.”

-----

Demikianlah kekhusyu’an mereka, bahkan sebagian meriwayatkan bahwa kakinya sampai terputus dalan keadaan sholat tanpa ia rasakan. Kehebatan macam apa ini..?Kekhusyu’an macam apa jika diantara mereka merasakan istirahatnya dalam shalat..?

Oleh karena itu, jika Rasulullah dikerumuni banyak problem atau malapetaka, beliau memanggil Bilal, agar Bilal segera adzan, “Istirahatkan kita dengan shalat, hai Bilal!”

Beliau menganggapnya sebagai refresing atas segala beban yang dirasakannya dari pendustaan kaumnya dan perbuatan mereka menghalangi jalan Allah serta rongrongan para pembesar Quraisy.

Adapun kita, tubuh-tubuh kita berdiri di masjid namun pikiran dan perasaan kita jauh melanglang buana ke luar masjid, baik di antara seluk beluk urusan bisnis, nasib, keadaan anak-anak di rumah, binatang piaraan, maupun rencana-rencana masa depan. Terbayang pula kecantikan istri dan pinangan. Pikitan kita dikerumuni oleh problem rumah tangga, anak-anak dan tetangga, urusan sawah, mobil dan semua yang berkaitan dengan hual beli, service, karier, kenaikan pangkat, persaingan hingga semua pengembaraan jauh keluar masjid.

Sampai akhirnya kita mendengar ucapan imam, “Assalammu’aliakum”, dan kita terkejut. Seakan seseorang membangunkan kita dari dengkur yang pulas, agar kembali menyadari bahwa kita sefang berada di masjid, di antara jamaah shalat. Barangkali ini adalah salah satu sebab yang kita saksikan, bahwa di antara manusia yang dalam kondisi senantiasa menjaga shalatnya, tetapi masih melakukan banyak kemaksiatan dan kezhaliman. Hal itu pula yang membuat mereka tidak khusyu’ dalam shalat, tidak menyadari bahwa Allah ada di depan mereka, dan tidak mentadabburi apa yang mereka baca..


Shalatnya tidak dapat mencegah kemunkaran….


--
Buku Rambu-rambu tarbiyah

Read More..

dari balik tabir, kudengarkan wanita itu bicara
mengisahkan pengalaman yang akan menjadi guru
***

“aku bertemu dua lelaki”, dia memulai cerita
dengan suara lembut, riang, sekaligus sendu
aku menerka demikian pula wajahnya
“kurasa dua-duanya mampu membuatku tak bisa menolak
jika mereka punya kehendak”
“oh ya?”, kudengarkan sambil dalam hati mengucap “Rabbi..”
***

“lelaki pertama berparas titisan yusuf,
hartanya warisan sulaiman, gagahnya serupa musa”
wanita itu berhenti, sejenak menghela nafasnya
aku menggigit bibir dan mendalamkan tundukku
***

“dan tahukah kau”, suaranya cekat kini,
“setelah bicara padanya, aku pulang terpesona
merasa telah berjumpa dengan lelaki paling rupawan
bercakap dengan insan paling bijaksana”
***

aku tak ingin tahu lebih banyak,
jadi kutanyakan padanya tentang lelaki kedua
dan sepertinya dia tersenyum
***
“seusai berbincang dengan lelaki kedua”, katanya
“aku pulang dengan bahagia, merasa penuh pesona
merasa menjadi wanita paling jelita
merasa diriku perempuan paling cendikia”
***

“jadi di antara mereka”, tanyaku sambil mengepalkan jemari
“siapa yang lebih tampan, siapa yang lebih mengagumkan?”
kurasa dia tersenyum lagi, menertawakanku barangkali
“laki- laki pertama lebih mencintai dirinya sendiri
dia bersukacita saat menebarkan pesona
dia bahagia ketika banyak hati memujanya”
***

“laki-laki kedua mempesona bukan karena dirinya
daya pikatnya ada pada perhatiannya, yang membuatku
merasa ada, merasa bermakna, merasa berharga”
***

“jadi”, aku menyimpulkan perlahan, “kaumemilih yang kedua?”

dia tersenyum lagi, “aku telah mendapatkan yang ketiga”
“laki-laki suci; yang memuliakanku dengan menikahiku
dia menjaga kesuciannya dengan pernikahan
dia menjaga pernikahannya dengan kesucian
dia berupaya untuk mempunya pesona lelaki pertama, tanpa mengumbarnya
dia belajar memiliki pesona lelaki kedua, untuk mengagungkan isterinya
meski jauh dari sempurna dia mengingatkanku pada sabda Sang Nabi;
sebaik-baik lelaki adalah yang paling memuliakan perempuan”
***


aku tersenyum kini, “tunggu, apakah engkau ini isteriku?”
***


salim a. fillah-www.fillah.co.cc

Read More..

“Muhamad sudah mati! Muhammad sudah mati!”

Hari itu, Lebah Uhud terbelah oleh gemuruh yang berhimpitan. Gempita teriakan kemenangan Ibn Qami’ah, si pembantai orang-orang Muslim, yang yakin telah mengakhiri riwayat Rasulullah. Dia membenci Muhammad karena beliau yang lahir dan tumbuh di antara debu Makkah dan bersikeras ingin mengubah cara penyembahan nenek oyang Arab.

Nusaibah nyaris menghentikan langkahnya. Dadanya serasa hendak meledak. Rasulullah telah pergi? Tidak mungkin! Napas Nusaibah menderu. Jatungnya serasa tertekan begitu hebat. Bagaimana jika memang demikian? Siapa lagi yang menyampaikan kata-kata Tuhan? Siapa lagi yang akan menjadi matahari? Nusaibah nanar, menolehkan lagi wajahnya ke musuh. Dia mengeratkan pegangan tangannya ke gagang pedang. Pedangnya menajam, “Kalau begitu aku akan menemani Rasulullah!”

Nusaibah menghamburi musuh dengan semangat penuh seolah terhampar surge di depannya. Pedang menerjang, “Syahid! Syahid!”

***

Beberapa menit sebelumnya..

Bukankah perempuan itu seperti penghuni langit? Tubuh mereka seolah bersayap. Raga keduanya seperti disusupi kekuatan yang tidak bisa dinalar. Nusaibah, dia tidak muda lagi. Dua anaknya bahkan telah sampai usia untuk mengangkat senjata di perang Uhud. Dia mengayunkan pedang dengan kekuatan yang asalnya seolah tersembunyi dalam tubuh feminimnya. Di tangan satunya, perisai besi terangkat sesekali, ketika pedang lawan menerjang. Kain jubahnya dan penutup kepalanya telah terkoyak dan semakin terkoyak.

Ummu Sulaim, perempuan lainnya, mencolok di antara sebarisan lelaki yang menjai perisai hidup mengelilingi Muhammad, sang panglima yang membawa kabar gembira. Tangan Ummu Sulaim bergantian mengayun pedang dan meluncurkan anak panah. pancaran matanya tak tersentuh rasa jerih atau jenuh. Meski kondisinya tidak lebih baik dibanding Nusaibah yang mulai berdarah-darah.

Nusaibah dan Ummu Sulaim seperti dua titik putih diantara banyangan hitam, saking mencoloknya mereka oleh keperempuannannya dalam perisai manusia itu, keduanya mengelilingi rasulullah, mengusir setiap bahaya yang menganjam jiwanya.

“Tidak akan kubiarkan kalian mengotori kesucian Rasulullah!” teriakan Nusaibah seperti bunyi terompet perang. Menggetarkan lawan yang datang bergantian. Perempuan itu sepertinya sudah kehilangan sakit. Seolah kulit arinya telah tiada. Sabetan pedang berulang di punggung dan tangannya tidak membuatnya berhenti. Merah mengubah warna kain yang ia kenakan. Napasnya pun sepengal-sepenggal. Wajahnya licin oleh keringat.

“Ibumu, Ibumu… balutlah lukanya teriak Rasulullah kepada Abdullah anak Nusaibah yang ikut berperang. Ya Allah, jadikanlah mereka sahabatku di surga.”

Mendengar kata-kata Rasulullah, Nusaibah menoleh sembari berteriak lebih kencang dibanding kapan pun. “Saya tidak hirau lagi apa yang menimpa saya di dunia, wahai utusan Allah!” Menjadi sahabat Kekasih Tuhan di Surga, lalu apa pentingnya semua kesakitan di dunia? Nusaibah meneruskan pertarungannya dengan senyum paling melegakan sepanjang hidupnya.

***

Mereka yang tetap berjuang walau Rasulullah wafat, hingga menjemput Sayhid. Lantas Kita?!, berleha-leha. Hanya terpana kepada sholawat dan barzanji, tanpa -gerak dan amal- apa-apa...!!


milestone 16062011 -14rajab
Muhammad, Lelaki penggenggam Hujan
diedit dengan seperlunya.

Tuesday, July 20, 2010

Bismillahirrohmannirrohim...


males juga memulai menulis -lagih- padahal banyak hal yang musti ditulis.. ada yang aneh emang dalam diri akhir-akhir ini.. (bahasa kerennya sih angot blogger-emoticon.blogspot.com) gak mau denger apa kata orang.. blogger-emoticon.blogspot.com mungkin juga efek berkurangnya ibadah sunnah n bertambahnya kerja blogger-emoticon.blogspot.com



brather...
banyak hal yang mau diceritakan,
dari diri sampai lingkungan..

ada banyak hal yang mau di ekspose,
biar dunia tahu tentang pandangan ku dari suatu masalah..

ada banyak hal yang mau ditungkan,
dari secuil masalah sampai segunung hikmah..



brather..
hati dah mulai kusut niih.. kata sahabat kebanyakan blogger-emoticon.blogspot.com, butuh refreshing sejenak.. tapi tak bisa untuk refreshing jalan-jalan blogger-emoticon.blogspot.com.. ya makanya ku putuskan untuk nulis wae laah.. biar terasa tentraman dikit.. blogger-emoticon.blogspot.com



brather..
(kok gak di jawab sih... brather kemane yak.. blogger-emoticon.blogspot.com) hihi...
mau semangat lagi ahh.. biar kerjaan gak keteter.. hayuk laah semangaat.. semangaat...blogger-emoticon.blogspot.com

kewajiban lebih banyak dari waktu yang ada..


dah.. cukup.. penjabarannya besok-besok yoo.. blogger-emoticon.blogspot.com


alhamdulillah...