Friday, May 23, 2014

Perisai Manusia

“Muhamad sudah mati! Muhammad sudah mati!”

Hari itu, Lebah Uhud terbelah oleh gemuruh yang berhimpitan. Gempita teriakan kemenangan Ibn Qami’ah, si pembantai orang-orang Muslim, yang yakin telah mengakhiri riwayat Rasulullah. Dia membenci Muhammad karena beliau yang lahir dan tumbuh di antara debu Makkah dan bersikeras ingin mengubah cara penyembahan nenek oyang Arab.

Nusaibah nyaris menghentikan langkahnya. Dadanya serasa hendak meledak. Rasulullah telah pergi? Tidak mungkin! Napas Nusaibah menderu. Jatungnya serasa tertekan begitu hebat. Bagaimana jika memang demikian? Siapa lagi yang menyampaikan kata-kata Tuhan? Siapa lagi yang akan menjadi matahari? Nusaibah nanar, menolehkan lagi wajahnya ke musuh. Dia mengeratkan pegangan tangannya ke gagang pedang. Pedangnya menajam, “Kalau begitu aku akan menemani Rasulullah!”

Nusaibah menghamburi musuh dengan semangat penuh seolah terhampar surge di depannya. Pedang menerjang, “Syahid! Syahid!”

***

Beberapa menit sebelumnya..

Bukankah perempuan itu seperti penghuni langit? Tubuh mereka seolah bersayap. Raga keduanya seperti disusupi kekuatan yang tidak bisa dinalar. Nusaibah, dia tidak muda lagi. Dua anaknya bahkan telah sampai usia untuk mengangkat senjata di perang Uhud. Dia mengayunkan pedang dengan kekuatan yang asalnya seolah tersembunyi dalam tubuh feminimnya. Di tangan satunya, perisai besi terangkat sesekali, ketika pedang lawan menerjang. Kain jubahnya dan penutup kepalanya telah terkoyak dan semakin terkoyak.

Ummu Sulaim, perempuan lainnya, mencolok di antara sebarisan lelaki yang menjai perisai hidup mengelilingi Muhammad, sang panglima yang membawa kabar gembira. Tangan Ummu Sulaim bergantian mengayun pedang dan meluncurkan anak panah. pancaran matanya tak tersentuh rasa jerih atau jenuh. Meski kondisinya tidak lebih baik dibanding Nusaibah yang mulai berdarah-darah.

Nusaibah dan Ummu Sulaim seperti dua titik putih diantara banyangan hitam, saking mencoloknya mereka oleh keperempuannannya dalam perisai manusia itu, keduanya mengelilingi rasulullah, mengusir setiap bahaya yang menganjam jiwanya.

“Tidak akan kubiarkan kalian mengotori kesucian Rasulullah!” teriakan Nusaibah seperti bunyi terompet perang. Menggetarkan lawan yang datang bergantian. Perempuan itu sepertinya sudah kehilangan sakit. Seolah kulit arinya telah tiada. Sabetan pedang berulang di punggung dan tangannya tidak membuatnya berhenti. Merah mengubah warna kain yang ia kenakan. Napasnya pun sepengal-sepenggal. Wajahnya licin oleh keringat.

“Ibumu, Ibumu… balutlah lukanya teriak Rasulullah kepada Abdullah anak Nusaibah yang ikut berperang. Ya Allah, jadikanlah mereka sahabatku di surga.”

Mendengar kata-kata Rasulullah, Nusaibah menoleh sembari berteriak lebih kencang dibanding kapan pun. “Saya tidak hirau lagi apa yang menimpa saya di dunia, wahai utusan Allah!” Menjadi sahabat Kekasih Tuhan di Surga, lalu apa pentingnya semua kesakitan di dunia? Nusaibah meneruskan pertarungannya dengan senyum paling melegakan sepanjang hidupnya.

***

Mereka yang tetap berjuang walau Rasulullah wafat, hingga menjemput Sayhid. Lantas Kita?!, berleha-leha. Hanya terpana kepada sholawat dan barzanji, tanpa -gerak dan amal- apa-apa...!!


milestone 16062011 -14rajab
Muhammad, Lelaki penggenggam Hujan
diedit dengan seperlunya.

No comments: